Knee And Toes: Duo Akustik Kota Malang yang Gemar Berpetualang

knee and toesDuo kolaborasi yang pernah tur keluar negeri secara independen, Knee and Toes. Duo akustik ini adalah Ristri Putri (gitar, pianika, vokal) dan Bie Paksi (gitar, ukulele, vokal).

Tiga rilisan mereka pun sejauh ini juga lahir dan didistribusikan melalui usaha mandiri mereka. Di bawah bendera label MinorCubes Records milik mereka dan situs resmi kneeandtoes.com, secara konsisten duo ini produktif di setiap tahunnya. Kabar terbaru mereka baru saja menutup 2013 lalu dengan album mini terbaru berjudul Unspoken Wish.

Nama Knee and Toes sendiri tak sengaja terlontar saat keponakan Bie tiba-tiba mengganggu mereka yang sedang merekam album mini pertama dengan nyanyian “Head, Shoulder, Knee and Toes”. “Karena bagian Knee and Toes-nya yang diulang-ulang dan sepertinya mudah diingat serta pelafalannya enak, jadi kami memutuskan menggunakan nama itu,” jelas Ristri Putri.

Berdiri sejak 2010, Bie dan Ristri memulai Knee and Toes dengan sebuah single “Let’s Go Arema” yang ditujukan untuk klub sepak bola kebanggaan kota asal mereka. Tak lama setelah itu keduanya pun merilis album mini pertama mereka yang berjudul A Journey pada September 2010.

Berbekal rilisan A Journey inilah, Knee and Toes akhirnya memutuskan berpetualang ke Inggris dengan destinasi 30 tempat konser di 7 kota setahun setelah merilis EP tersebut. “Sebenarnya awalnya hanya mendapat beberapa venue di London saja melalui seorang kawan dari Inggris, tapi ketika itu Bie mengusulkan untuk: ‘kenapa nggak sekalian saja kota-kota lainnya?’ Akhirnya diperpanjang deh jadi empat bulan keliling Manchester, Liverpool, Edinburgh, York, Bristol, dan Brighton,” ungkap Ristri.

Meskipun telah menjajaki Inggris, Knee and Toes tak setuju sepenuhnya jika perjalanan saat itu hanya demi melakukan promo album mini mereka. “Kami tidak pernah bilang bahwa perjalanan itu (ke Inggris) adalah sebuah promo, tapi kami lebih suka mengatakan bahwa kami ke Inggris untuk belajar,” jelas Ristri.

Dari perjalanan tersebut baik Ristri maupun Bie banyak belajar dari musisi-musisi dan penikmat musik di sana. Mereka mengaku bahwa musisi independen di sana bermusik sebetulnya tak jauh berbeda dengan di Indonesia. Hanya saja apresiasi yang diekpresikan penonton di sana dan di Indonesia sedikit berbeda.

“Nggak jauh berbeda kok kalo di musisinya. Tapi kalo penontonnya di sana lebih jujur. Kalo mereka senang dengan musik kita, ya mereka ikut goyang, dan nggak sungkan untuk segera menghampiri musisi setelah konser selesai. Biasanya mereka bertanya dari mana asal kita, sudah ada CD apa belum, seperti itu,” tambah Ristri lagi.

 

Hasil “pembelajaran” dari tur 30 tempat di Inggris pun akhirnya membuahkan sebuah album penuh bertajuk Dammit I’m Mad setahun kemudian. Kembali diproduksi dan didistribusikan secara mandiri, album bersampul bus tingkat Inggris ini menelurkan beberapa single seperti “Life is A Playground”, “Phone Call”, “Golden & Diamond”, dan “Morwening”.

Album penuh ini dikerjakan hanya berdua dengan menggunakan teknologi home recording. Ketika Ristri bertanggung jawab lebih di departemen lirik, Bie cenderung pusing mengulik software yang digunakan untuk rekaman, mixing, dan mastering, sementara aransemen adalah hasil racikan keduanya.

Di luar produksi, keduanya pun menjadi tim ramping yang mengurus segalanya secara mandiri. Mulai dari mengajukan kerjasama dengan pihak-pihak sponsor, menampung basis penggemar, mengurus media sosial, hingga merancang acara sendiri. Salah satu gelaran gagasan mereka adalah “Outside The Bedroom”, dimana selain menjadi bagian promo musik, acara ini juga mempertemukan musisi-musisi kamar untuk keluar rumah dan mempertontonkan karya-karya mereka.

Volume 1 dari Outside The Bedroom sendiri telah dihelat pada Juni 2013 lalu di Rompok Bolong, Jazz Corner, Malang. Tak hanya musisi-musisi kamar dari Malang, sejumlah musisi kamar Surabaya pun turut hadir dalam acara tersebut. Volume 2 dari Outside The Bedroom rencananya akan dilakukan pada Sabtu (18/1) mendatang di Gulokopi, Malang.

Tur ke luar negeri Knee and Toes yang kedua terjadi pada November 2013 lalu, yakni ke negeri Jiran, Malaysia dan Singapura. Membawa tema tur yang sama dengan judul album mini kedua mereka, Unspoken Wish, Knee and Toes mengaku bahwa tur kali ini benar-benar doa yang tak terucap dari mereka pada 2013. Total 10 venue dan 5 kota mereka sambangi dalam tur Unspoken Wish ini.

“Selain tur, rilisnya album mini kami di penghujung tahun adalah salah satu perwujudan dari sekian banyak harapan Knee & Toes di tahun 2013. EP ini juga bisa dibilang sebagai langkah penutup kami untuk 2013 dan langkah awal kami menuju 2014,” jelas Bie Paksi melalui wawancara surat elektronik.

EP kedua bertajuk Unspoken Wish dirilis selang sebulan setelah tur Knee and Toes ke Malaysia dan Singapura. Dengan single pertama “I Got You”, Knee and Toes memperkenalkan sekaligus memasarkan album mini terbarunya tersebut melalui situs resmi mereka. Single “I Got You” sendiri dapat diunduh gratis melalui situs tersebut.