Q&A – Josh Homme (Queens of the Stone Age)

Josh_HommeJosh homme sangat gembira mendengar bahwa Queens of the Stone Age dianugerahkan tiga nominasi Grammy Awards pada beberapa tahun lalu – dimana ia mendapatkan Album Rock Terbaik untuk …Like Clockwork, album perdana yang mereka luncurkan semenjak tahun 2007 – namun dia belum bisa mengonfirmasi mengenai kehadirannya pada acara penganugerahannya di masa mendatang.

“Entah apakah saya cocok untuk karpet merah,” kata sang vokalis-gitaris (40 tahun). “Saya tak punya jas. Tapi ada banyak tempat penyewaan di sana.” Homme menelepon dari Farmers Market di Los Angeles saat sedang libur dari tur dunia Queens of the Stone Age.

Kalian bersaing dengan Black Sabbath, Led Zeppelin dan David Bowie untuk kategori Album Rock Terbaik di Grammy Awards. Bagaimana rasanya?
Rasanya seperti peluang menang sangat tipis [tertawa]. Tidak, maksud saya, mereka pesaing yang luar biasa. Andai saya bisa makan malam dengan mereka saja.

Kalian termasuk salah satu dari dua artis saja di kategori itu, selain Kings of Leon, yang mulai berkarier setelah 1970. Apa yang dapat disimpulkan dari itu tentang keadaan rock saat ini?
Saya tidak tahu. Masih ada banyak band rock hebat di luar sana – misalnya, Arctic Monkeys tidak mendapat nominasi sama sekali. Tapi saya tidak memandangnya dari segi itu. Koleksi album saya disusun secara abjad, bukan secara genre. Saya suka Ol’ Dirty Bastard. Saya menghabiskan tiga minggu terakhir mendengarkan Dean Martin dan Nat “King” Cole. Jika itu bagus, saya mendukungnya.

Arctic Monkeys adalah sahabat Anda. Apakah Anda pernah berandai-andai masih berusia 20-an seperti mereka?
Tidak. Saya sangat fokus pada masa kini. Saya baru memasuki usia 40, dan saya masih melakukan hal yang sama: saya hanya berusaha memukau orang-orang di band saya. Tahun-tahun telah berlalu, tapi lucunya tujuannya masih sama.

Anda menghabiskan sebagian besar dari tahun lalu untuk tur. Pernahkah bosan dengan kehidupan itu?
Tantangan terbesarnya adalah bertemu orang-orang yang sama dan orang-orang baru dalam jumlah tak menentu di waktu bersamaan – rasanya seperti bekerja di toko ikan, tapi kita adalah salah satu ikannya. Selain itu, sangat sulit untuk mendapatkan ukuran vodka yang saya butuhkan.

Anda pernah berkata bahwa Jay Z “should fuck off” setelah mendapat perlakuan buruk dari tim keamanannya di festival Made in America yang diselenggarakannya tahun lalu. Apakah Anda dihubunginya?
Ya. Kami berbicara, dan saya rasa kami bisa saling melihat sudut pandang masing-masing dengan cukup jelas. Malah, dia bercerita bahwa keluarganya sendiri bermasalah dengan keamanannya. Jadi saya tidak menyesali ucapan saya.

Seseorang yang blak-blakan seperti Anda seharusnya ada di Twitter, tapi nyatanya tidak. Mengapa?
Sewaktu saya masih anak-anak, tidak ada Internet. Saya tidak membencinya. Saya tidak ikut, itu saja. Saya punya tiga band, saya punya dua anak, dan saya senang keluar dari rumah.

Omong-omong soal anak, apakah Anda melihat foto Eddie Vedder di konser One Direction? Apakah Anda harus melakukan hal-hal serupa untuk anak-anak Anda?
No, I usually go the other direction [tertawa]. Tapi saya senang jadi ayah. Saya punya anak 7 tahun dan 2 tahun, dan mereka berdua ingin berguling-guling di tanah. Saya pikir, “Akhirnya, ada orang yang saya pahami!”

Apakah mereka boleh mendengar musik Anda?
Ya, mereka menyukainya. Aneh – seharusnya mereka seperti, “Ayah mempermalukan saya!” Tapi saya yakin masih akan ada banyak tahun di mana saya bisa mempermalukan mereka dengan cara yang semestinya.

Kini setelah Queens of the Stone Age aktif kembali, apakah Anda ingin segera membuat album lagi?
Tentu saja. Kami sudah punya lagu yang lebih dari cukup. Jadwal kami penuh hingga September, tapi setelah itu kami berencana langsung masuk studio dan mulai rekaman. Saya tak sabar menunggu. Momen kesukaan saya adalah berada di titik itu, saat kita menciptakan sesuatu dari nol. Agak seperti kokain.

Berapa banyak perencanaan yang Anda lakukan sebelum mulai rekaman?
Di saat harus membuat musik, di saat itulah saya ingin tersesat. Menjadi seseorang yang gila kendali tak sebaik menjadi orang gila yang mengendalikan dengan santai. Kita meraba-raba dalam kegelapan untuk mencari sesuatu yang terasa enak. Selama kita tidak berada dalam pesta seks, itu bisa jadi momen yang luar biasa.