Soundwaves: Terus Berkeras Membakar Batas

Riann

Menyingkat sejarah panjang momentum musik Indonesia beberapa dekade, kisah perkembangan musik alternatif dari yang ekstrem hingga pop dan folk berkembang secara memberangsangkan beberapa tahun belakangan.

Mengutip tulisan di dalam feature “TOKOH SENI TEMPO 2013” majalah Tempo edisi Januari 2013, ada lebih dari seratus album yang dirilis.

Bagi grup musik mandiri yang berani merilis albumnya, yang ada sekarang adalah fenomena yang terbangun dari jejaring apresiasi yang semakin meluas dalam skala nasional.

Di tengah industri yang lesu, band-band mandiri muncul dengan rilisan musik tanpa beban dan mencatatkan penjualan album fisik, riil kendati kecil. Di antaranya, band-band yang notabene berasal dari daerah.

Band daerah? Entah apa cara menakar kedaerahan suatu band, apakah dari radius berapa jauh jarak kota domisilinya dari Jakarta atau Bandung? Man, semua area di Nusantara itu sebenarnya daerah; bahkan Jakarta, walaupun Khusus Ibukota tetap saja Daerah. Scene di Ibukota dan kota besar utama berkembang dan mulai lebih cepat sebagai pionir dan pembuka jalan bahkan patron, tapi sekarang dengan percepatan teknologi informasi dan Internet maka selera pun meluas.

Begitu juga cara komunikasi yang bisa dengan mudah digunakan untuk memperluas jaringan. Akses Internet juga membuka gerbang ragam selera musik dengan adanya netlabel, online music streaming hingga filesharing. Plus media sosial sebagai corong amplifikasi dan informasi serta interaksi dengan pendengar musikmu.

Banyak bermunculannya “band daerah” yang merilis materinya dengan beragam format dan skala distribusi adalah fenomena yang bagus, walau tentu tak semua rilisannya juga bagus. Parameter yang paling benar untuk melakukan penilaian adalah dari hasil keluaran karyanya, kerja yang dilakukan untuk musik mereka, bukan dari mana suatu grup berasal. Ini membawa pekerjaan rumah besar bagi media musik nasional yang peduli untuk mau membuka mata dan telinga lebih lebar akan aksi musik luar biasa dari sepenjuru Nusantara.

Tapi kalaupun tiada media yang menyorot, peduli setan karena lebih baik untuk menjadi media bagi kreasi kita sendiri; bukankah itu artinya mandiri? Kanal video di YouTube dan situs dan blog untuk bandmu. Plus media sosial sebagai corong amplifikasi dan informasi. Bersama dengan arus masif band mandiri, maka sekarang pun banyak bermunculan majalah lokal yang berkonten musik, dan webzine yang pasti akan mau menulis tentang bandmu, walau itu berupa kritik yang pedas. Masih bagus diulas dan dikritik daripada tidak didengar sama sekali. Dianggap album paling taik sedunia pun kalau diulas orang akan penasaran seperti apa sih album paling taik sedunia.

Nampang dan diulas di majalah atau media bukanlah tujuan, hanya alat propaganda untuk mendukung penjualan album fisik, bukan single atau RBT, real physical releases. Bila pun Anda idealis garis keras, ada banyak media dan literatur alternatif seperti fanzine, baik lokal maupun internasional; seperti beberapa kali Maximum Rock’N’Roll memuat band dari Indonesia. Atau glossy magazine seperti Metal Hammer yang memuat artikel tentang scene metal di Indonesia, dan bahkan memberikan penghargaan untuk Burgerkill (Bandung).

Musik adalah salah satu elemen yang menyita hidup saya, anak daerah yang kerap berpindah karena ayah yang tentara. Kemudian bertualang lama di Jakarta untuk kuliah, kerja dan band-band-an. Singkat cerita, saya kembali ke tanah darah Palembang kemudian bergabung dengan ((AUMAN)). Karena habitatnya di Sumatera Selatan, band ini dengan gampang dikategorikan sebagai band daerah, band kelas dua atau entah kasta apalah yang diberikan untuk ((AUMAN)).

Peduli setan dengan kategori tersebut, kami hanya peduli dengan apa yang bisa kami lakukan dengan musiknya sebagai kolektif yang mandiri. Band di mana saya tergabung ini bukanlah band yang bisa Anda harapkan mau tampil di program musik pagi di televisi sebagai sebuah pilihan untuk tidak ikut serta dalam arus industri musik utama. Bukan band DIY (do it yourself) idealistik keras walau secara kenyataannya melakukan dan mengurus semuanya secara mandiri dengan kendali penuh dari para kolaboratornya.

Bukan enviromentalist militan tapi berusaha mawas lingkungan dan menyisihkan dari pendapatan CD, merchandise dan fee persentase alokasi dana untuk gerakan solidaritas kemanusiaan dan organisasi-organisasi lingkungan hidup yang kami dukung. Di dalam ruang latihan grup adalah unit kreatif, sesudahnya di luar adalah unit kerja dengan pembagian tugasnya masing-masing, termasuk Rimauman Crew yang membantu sebagai tim produksi band. Hingga tanggung jawab yang dipikul pun tidak terasa berat karena berusaha terbagi sesuai porsinya.

Dibentuk tahun 2010, ((AUMAN)) merilis album debut Suar Marabahaya pada bulan pertama 2013. Sebuah album yang dibuat dari obsesi bersama untuk punya rilisan, dengan target dari awal band itu bergulir adalah untuk mengerjakan serius materi lagu dan merilisnya sendiri di bawah Rimauman Music, hasil dana kolektif dari para kolaborator yang menyisihkan penghasilan pribadi, blood, sweat & tears. Banyak drama dalam pengerjaannya tapi gitaris Erwin Wijaya dan Ahmad Ruliansyah, drummer Aulia Effendy, bassist Zarbin Sulaiman, dan saya mencoba fokus untuk tetap dalam target dan jalurnya.

Album debut tersebut adalah sebuah obsesi kreatif yang dilahirkan tanpa ekspektasi apapun. Mencoba merencanakan matang semua aspek, dari promosi, distribusi, merchandising, produksinya dan tetek bengek lainnya. Satu-satunya misi besar album tersebut adalah untuk sedikit memaksa telinga dan mata agar menoleh ke kota yang mungkin lebih banyak dikenal sebagai kota pempek. Ya, pride adalah ingin menunjukkan bahwa ada kehidupan musikal yang menggairahkan di sini. Untuk ((AUMAN)), kerja keras di Suar Marabahaya membawa petualangan dengan Bandung Berisik 2013, Soundrenaline 2012, Rock In Solo 2013, Ekspedisi Temasek Malaya ke Rockin’ the Region di Esplanade Singapura dan Rumah Api di Kuala Lumpur, dan ke Jambi.

Yang pasti penuh keterkejutan, seperti ketika Doom Metal Front Zine dari Jerman meminta untuk memasukkan “City of Ghosts” dalam kompilasi Asia: Tunes of the Rising Sun(n). Keterkejutan lagi adalah ketika dua bulan Suar Marabahaya bertengger di Rolling Stone Indonesia Top 10 Albums; dan hampir serangan jantung ketika tahu album itu juga masuk 10 Album Terbaik 2013 Pilihan majalah Tempo. Tapi band ini lahir dari gig pertamanya yang sangat memalukan, jadi jangan bilang kami akan gila berbesar kepala, karena ((AUMAN)) masih tetap menikmati main awal hasil kocok rundown di studio gig benefit kolektif yang penuh peluh dan agresi jarak dekat.

Tapi maafkan bila senyum saya merekah ketika membaca daftar-daftar yang juga memasukkan rilisan SemakBelukar, Kantong Simayit dan Trendy Reject dalam catatan rilisan terbaik pilihan mereka di tahun 2013; sebuah kebahagiaan kecil yang bisa menjadi penghibur di penghujung hari kerja yang penat. Akhirnya setelah beberapa dekade setelah Golden Wing, mereka menoleh. Ya, memang dari sisi musik pop ada beberapa band di era sekarang yang masuk kancah nasional tapi tak ada yang berpengaruh secara signifikan, kecuali mungkin Armada.

Tiap daerah memiliki scene dengan romantisme dan karakteristiknya masing-masing. Sebuah keunikan yang dengannya maka tidak bisa dipertanding-bandingkan, karena hanya pelaku yang aktif berkontribusi dan yang terlibat di dalamnya bisa merasakan keistimewaannya. Bila pun ada yang harus diperkuat dalam level lokal, itu adalah kemauan untuk belajar dan memperkaya pengetahuan akan seluk-beluk musik dan rekaman secara teknis serta elemen produksi di belakang layar.

Memperluas jaringan untuk bisa memiliki database yang bisa dimanfaatkan untuk promosi dan distribusi rilisan serta mengorganisir tur. Karena pengalaman tanding tandang juga membentuk mentalitas yang bisa membangun solidnya sebuah grup. Dan bagi saya secara personal, bila berbicara akan kedaerahan, insting kedaerahan dan emosi saya menjadi lebih fluktuatif karena ketika membaca dalam ulasan The Jakarta Globe, grup SemakBelukar ditulis berasal dari Yogyakarta, dan Metal Hammer menyebut ((AUMAN)) sebagai band stoner rock dari Bali karena bahwasanya kami dari Palembang, sebuah kota di provinsi Sumatra Selatan.

Berbicara akan insting kedaerahan, yang harus dikembangkan adalah pemahaman ekonomi sederhana dalam scene alternatif bila band-bandnya mantap dan produktif sedikit banyak akan menggulirkan ekonomi kreatif lokal dari merchandiser, distro-distro yang ada, artworker, videografer, fotografer dan banyak elemen lain yang menjadi bagian dari keseluruhan subkultur para muda di kota atau daerah tersebut.

Dalam hal ini, saya tidak berbicara akan ide kapitalis bombastik, tapi bila bisa memberikan kontribusi yang bernilai ekonomis selayaknya dan tanpa niat untuk ripping you off, mengapa tidak. Karena dari situ paling tidak band-bandnya punya sesuatu untuk ditabung di kas. Hobi main musik dengan passion itu mahal, Anda mesti dengan cermat mengatur keuangan band.

Berbicara akan insting kedaerahan adalah melihat di balik keriuhan berita akan hukum syariah dan kanun-kanun di Aceh ada BNA Youth Bookings yang kerap mengorganisir dan membantu touring bands lokal dan mancanegara. Medan adalah kota yang bisa dibilang salah satu kiblat sirkuit musik nasional dan tetap steady dengan band-band mantapnya. Merasakan kebahagiaan dengan bertahannya Rock In Solo. Scene di Riau, Batam, Tanjung Pinang, bahkan ada hardcore punk di Tembilahan.

Intensitas keras DIY di Padang, juga Segitiga Spirit Ground di Jambi hingga ujung Lampung. Dari Makassar dengan Rock In Celebes, hingga Manado dengan Gudang Sendjata dan Pakatuan Rebels. Kukar Rockin’ Fest di Tenggarong, dan kawan-kawan di Pontianak dan lingkar eratnya dengan DIY scene di Sabah. Bahkan Bali dengan Navicula dan Superman Is Dead sebagai salah satu band daerah yang menembus industri musik nasional dengan ramuan punk rocknya. Dan di balik semua keriuhan, jalur tur dan jaringan DIY juga semakin solid tak mengendur; batasan lokalitas semakin diterabas.

Menyingkat celotehan di atas, beberapa pemahaman “sederhana” untuk membantai pesimisme kedaerahan adalah:

Memahami kemandirian yang dinamis adalah seperti ikan hiu yang harus terus bergerak untuk bisa bernafas dan hidup. Dan passion adalah bahan bakarnya. Tidak ada yang disia-siakan bila dipersiapkan dengan matang, terencana dan menyenangkan.

Memahami kedaerahan adalah mau mengetahui segala kekurangan yang dimiliki bukan untuk dijadikan sebagai alasan, tapi untuk belajar dan mendayagunakan keterbatasan sumber daya manusia dan teknis yang ada secara maksimal.

Memahami kedaerahan adalah tidak terperangkap dalam pride lokal kosong. Respect lahir dari karya dan produktivitas kreatif yang tertuang dalam medium apapun; dan sikap lahir dari network of man, network of friends dalam skala dan level idealisme apapun.

Memahami kedaerahan adalah keinginan untuk membakar batas dengan mau membangun hubungan dengan daerah lainnya, berjejaring. Membangun media bersama, jaringan distribusi rilisan dan merchandise serta touring. Tidak menjadi katak dalam tempurung.

Memahami kedaerahan adalah berkreasi dan bertindak secara lokal bukan berarti tidak berpikir dan berencana secara nasional, regional atau bahkan global. Hey ho, mamam tuh go international, banyak tawaran tiket promosi dari maskapai low-cost carrier yang bisa kamu siasati dan set untuk tur mini ke negeri Jiran, bahkan untuk band hardcore yang paling punk sekalipun. Pulangnya dapat teman dan jejaring yang bisa bantu kamu titip edarkan rilisan dan merchandise.

Memahami kedaerahan adalah bahwa untuk menjadi dan dianggap nomor dua itu biasa; yang luar biasa adalah mau berproses dan memahami semua selalu harus mulai dari nol, melewati segala fase yang akan manis pada waktunya, walau kadang pahit harus dahulu dirasa.

Tulisan ini muncul sebagai respons positif kontemplatif dari polemik band pusat/band Ibukota dan daerah yang sempat tercetus oleh teman saya, personel sebuah “band dari daerah” yang sebenarnya adalah band besar skala nasional. Yang terbentur dan masih memikirkan dikotomi Ibukota dan Daerah, semuanya hanya akan menjadi bahan bualan kosong di beranda ketika waktu kopi sore tiba.

Memikirkan harus semacam berkompetisi saja sudah terasa sangat menyebalkan. Untuk apa? Untuk melihat siapa band yang bisa menjadi paling besar tanpa menimbang popularitas juga bisa membawa bencana besar. Tapi satu yang pasti, kompetisi yang berbasis kreasi melahirkan inovasi; inovasi kreatif yang membuat pengalaman mendengarkan musik lokal tak lagi penuh kebasian. Jangan menunggu, lakukan sendiri. Buat musik atau karyamu dilihat atau didengar, lakukan dengan benar agar tak sia-sia.

Masalah pendanaan dan keuangan akan selalu menjadi masalah klasik yang aktual, dan duit tidak jatuh dari langit. Begitu juga apreasiasi dan respek yang akan diberikan atas grup atau karyamu. Berhenti menggerutu menghabiskan tenaga, berhenti mengeluh, terus berpeluh. Untuk jadi besar seperti idola Anda di Ibukota dan kota-kota besar itu perlu kerja keras. Di daerah? Kalau Anda mau, kerja tiga kali lebih keras. Tapi kalau passion yang berbicara maka ia tak akan terasa. Dan mari kita akhiri sebelum saya mulai terdengar seperti Mario Teguh: terus berkeras, membakar batas!